CLICK TO DOWNLOAD

PENATALAKSANAAN CEDERA KEPALA

HEAD TRAUMA

1. PENDAHULUAN
CEDERA KEPALA

50 % dari kematian karena trauma berhubungan dengan trauma kepala, dan lebih dari 60 % kematian trauma kendaraan bermotor akibat injury pada kepala.
Untuk menyangka sebuah injury kepala nilailah dengan seksama keadaan kerusakan benda / barang yang dibentur kepala korban atau kerusakan kendaraan yang berhungan dengan korban.
Gerakan yang terjadi pada trauma kepala :
• Kepala yang menabrak benda diam sering mnyebabkan injury otak dan tengkorak yang multiple.
• Bagian kepala yang membentur langsung benda diam akan mengalami kemungkinan fraktur tulang dan otak di balik tulang itu mengalami memar
( contusio )
• Bagian yang berlawanan dengan benturan langsung bisa mengalami perdarahan akibat dari peregangan jaringan di tempat itu
• Pukulan atau benda bergerak terhadap kepala yang sedang diam, akan menyebabkan fractur pada daerah yang terpukul ( terimpak ), jika fragment tulang berlanjut menekan otak maka kontusio atau bahkan laserasi otak dapat terjadi

II. ANATOMI DAN FISIOLOGI KEPALA :
A. Kulit Kepala ( Scalp ) mempunyai 5 lapisan :
1. Kulit
2. Jaringan sub cutis
3. Galea aponeurotika
4. Jaringan penunjang longgar ( loose areolar tissue )
5. Periosteum dari pericranium
Loose areolar tissue yang memisahkan antara galea dengan pericranium adalah tempat :
a. Untuk terjadinya hematom subgaleal
b. Flap luas dan “ scalping “ injury
Kulit kepala ini bisa nmengalami perdarahan banyak, tetapi mudah diatasi hanya dengan menekan sebentar saja daerah yang berdarah dan perdarahan akan berhenti.
Pada anak, laserasi kulit kepala berakibat kehilangan darah masif.

B. Tulang Tengkorak ( Cranium )
Terdiri dari :
a. Calvarium, tipis pada regiotemporalis
b. Basis Kranii
Rongga tengkorak dasar di bagi 3 fosa :
1. Fosa anterior, tempat lobus frontalis
2. Fosa Media, Tempat lobus temporalis
3. Fosa posterior, ruang bagi batang otak bawah dan cerebelum
Tulang tengkorak yang tipis adalah daerah temporal, bagian dasar tengkorak tidak rata dan tidak teratur sehingga memudahkan memar atau laserasi otak manakala otak bergerak tidak bersamaan dengan tengkorak seperti pada benturan atau truma.

C. Meningen ( selaput yang menutupi seluruh otak )
Antara tl. Kepala dan otak terdapat 3 lapisan meningeal :
1. Dura mater, jaringan fibrous kuat, tebal dan kaku merupakan jaringan ikat.
Spasi epidural terletak antara tulang tengkorak dengan duramater, dispasi ini terdapat arteri meningeal, apabila terjadi perlukaan didaerah ini dapat menyebabkan perdarahan epidural.
2. Arachnoid membrane, tipis transparan menyerupai sarang laba-laba
Dibawah membrane ini terdapat spasi yang disebut sub-arachnoid space, dimana terdapat cairan otak ( Cerebro Spinal Fluid ) dan vena meningeal. Cedera di spasi ini akan menyebabkan hematom subdural.
3. Pia mater, melekat erat pada permukaan kortex otak (lapisan yang membungkus otak)

D. Otak
Menempati 80 % rongga tengkorak terdiri dari tiga bagian :
1. Cerebrum (otak besar), berfungsi untuk intelektual, alat sensor dan kontrol fungsi motorik
2. Cerebellum (otak kecil), merupaka pusat koordinasi gerak dan keseimbangan
3. Batang otak (brain stem), adalah tempat fusat kesadaran, pusat pernafasan dan pusat kontrol listrik jantung
Dari batang otak ini keluar syaraf-syaraf kranial, syaraf yang penting untuk pasien trauma kepala adalah syaraf kranial III (Nervus occulomotor) yang mengontrol constriksi pupil. Apabila terjadi gangguan pada N III menyebabkan pupil bereaksi lambat terhadap cahaya atau sama sekali tidak bereaksi dan dalam keadaan dilatasi.

E. Cairan srebro spinal ( Cereobro spinal fluid)
Dihasilkan oleh pleksus kloroideus dengan kecepatan produksi sebanyak 30 cc/jam
Fungsi cairan ini sebagai shock absorber antara otak dengan tengkora. Adanya darah dalam CSS dapt menyumbat granulasio arakhnoid sehingga mengganggu penyerapan CSS dan menyebabkan kenaikan tekanan intra kranial (hidrosefalus komunikans)

F. Tentorium
Bagian dura yang menutup cerebellum
Bagian tengah tentorium ini berlubang, tempat lewatnya batang otak dari otak besar ke arah medulla spinalis, lubang ini di sebut INCISURA.

III. FISIOLOGI
A. Tekanan Intrakranial
Kenaikan TIK sering merupakan indikasi adanya masalah serius dalam otak.
TIK normal pada waktu istirahat : 10 mmHg (136 mm H2O)
Tik tidak normal : > 20 mm Hg
TIK kenaikan berat : > 40 mm Hg
Semakin tinggi TIK setelah cedera kepala, semakin buruk prognosisnya.
B. Dokrin Monro-Kellie
Suatu konsep sederhana yang menerangkan pengertian TIK. Dimana volume intrakranial selalu konstan, karena rongga kranium pada dasarnya rongga yang tidak mungkin mekar.
C. Tekanan Perfusi Otak (TPO)
TPO adalah indikator yang sama pentingnya dengan TIK.
Formula TPO = TAR – TIK
Mempertahankan TPO adalah prioritas yang sangat penting dalam penetalaksanaan penderita cedera kepala berat
D. Aliran Darah ke Otak (ADO)
ADO normal ke dalam otak kira-kira 50 mL/gr jaringan otak per menit
ADO 20 – 25 ml/100 gr/mt aktifitas EEG akan hilang
ADO 5 ml/100 gr/mt sel-sel otak mengalami kematian dan terjadi kerusakan yang menetap

IV. KLASIFIAKSI
Cedera kepala diklasifikasikan dalam 3 deskripsi :
A. Mekanisme Cedera
Mekanisme cedera kepala dibagi :
a. Cedera kepala tumpul, berkaitan dengan kecelakaan mobil-motor, jatuh atau pukulana benda tumpul
b. Cedera kepala tembus, disebabkan oleh peluru atau tusukan
Adanya penetrasi selaput dura menentukan suatu cedera tembus atau cedera tumpul.
B. Beratnya Cedera
GCS (Glasgow Coma Scale), untuk menilai secara kuantitatif kelainan neurologis dan dipakai secara umum dalam deskripsi beratnya cedera kepala. Dan digunakan juga untuk menilai tingkat kesadaran penderita akibat penyebab lain.
C. Morfologis Cedera
Secara morfologis cedera kepala dapat dibagi :
1. Fraktur Kranium
Dapat terjadi pada atap atau dasar tengkorak, dapat berbentuk garis atau bintang dan dapat pula terbuka dan tertutup
Fraktur kranium terbuka atau komplikata mengakibatkan adanya hubungan antara laserasi kulit kepala dan permukaan otak karena robeknya selaput dura
2. Lesi Intrakranial
Lesi intarkranial diklasifikasikan dalam :
a. Perdarahan Epidural
Hematom Epidural terletak diluar dura tetapi di dalam rongga tengkorak dan cirinya menyerupai lensa cembung, sering terletak di area temporal atau tempral-parietal yang disebabkan oleh robeknya arteri meningeal mengakibatkan retaknya tulang tengkorak. Gumpalan darah dapat berasal dari arteri atau vena.
Perdarahan epidural jarang terjadi, namun harus memerlukan tindakan diagnosis maupun operatif yang cepat.
Pertolongan secara dini prognosisnya sangat baik, karena kerusakan langsung akibat penekanan gumpalan darah pada jaringan otak tidak berlangsung lama.
Sering menunjukan adanya Interval Lucid, dimana penderita yang semula mampu berbicara lalu tiba-tiba meninggal (talk and die)
b. Perdarahan Subdural
Perdarahan subdural lebih sering daripada perdarahan epidural
Perdarahan subdural biasanya menutupi seluruh permukaan hemisfer otak dan kerusakan otak dibawahnya lebih berat dan prognosisnya lebih buruk.
Angka kematian lebih tinggi
Pembedahan yang cepat dan penatalaksanaan medikamentosa yang agresif akan menurunkan angka kematian
Perdarahan sering terjadi akibat robeknya vena-vena yang terletak antara korteks cerebri dan ninus venous tempat vena bermuara, atau dapat juga terjadi akibat laserasi pembuluh arteri pada permukaan otak
c. Kontusio dan Perdrahan Intracerebral
d. Cedera Difus

V. PENATALAKSANAAN CEDERA KEPALA

I. CEDERA KEPALA RINGAN (GCS = 14 – 15 )
• Idealnya semua penderita cedera kepala diperiksa dengan CT scan, terutama bila dijumpai adanya kehilangan kesadaran yang cukup bermakna, amnesia atau sakit kepala hebat.
3 % penderita CK. Ringan ditemukan fraktur tengkorak
• Klinis :
a. Keadaan penderita sadar
b. Mengalami amnesia yang berhubungna dengan cedera yang dialaminya
c. Dapat disertai dengan hilangnya kesadaran yang singkat
Pembuktian kehilangan kesadaran sulit apabila penderita dibawah pengaruh obat-obatan / alkohol.
d. Sebagain besar penderita pulih sempurna, mungkin ada gejala sisa ringan
• Fractur tengkorak sering tidak tampak pada foto ronsen kepala, namun indikasi adanya fractur dasar tengkorak meliputi :
a. Ekimosis periorbital
b. Rhinorea
c. Otorea
d. Hemotimpani
e. Battle’s sign
• Penilaian terhadap Foto ronsen meliputi :
a. Fractur linear/depresi
b. Posisi kelenjar pineal yang biasanya digaris tengah
c. Batas udara – air pada sinus-sinus
d. Pneumosefalus
e. Fractur tulang wajah
f. Benda asing
• Pemeriksaan laboratorium :
a. Darah rutin tidak perlu
b. Kadar alkohol dalam darah, zat toksik dalam urine untuk diagnostik / medikolagel
• Therapy :
a. Obat anti nyeri non narkotik
b. Toksoid pada luka terbuka
• Penderita dapat diobservasi selama 12 – 24 jam di Rumah Sakit

II. CEDERA KEPALA SEDANG ( GCS = 9 13 )
• Pada 10 % kasus :
 Masih mampu menuruti perintah sederhana
 Tampak bingung atau mengantuk
 Dapat disertai defisit neurologis fokal seperti hemi paresis
• Pada 10 – 20 % kasus :
 Mengalami perburukan dan jatuh dalam koma
 Harus diperlakukan sebagai penderita CK. Berat.
• Tindakan di UGD :
 Anamnese singkat
 Stabilisasi kardiopulmoner dengan segera sebelum pemeriksaan neulorogis
 Pemeriksaan CT. scan
• Penderita harus dirawat untuk diobservasi
• Penderita dapat dipulangkan setelah dirawat bila :
 Status neulologis membaik
 CT. scan berikutnya tidak ditemukan adanya lesi masa yang memerlukan pembedahan
• Penderita jatuh pada keadaan koma, penatalaksanaanya sama dengan CK. Berat.
• Airway harus tetap diperhatikan dan dijaga kelancarannya

III. CEDERA KEPALA BERAT ( GCS 3 – 8 )
• Kondisi penderita tidak mampu melakukan perintah sederhana walaupun status kardiopulmonernya telah distabilkan
• CK. Berat mempunyai resiko morbiditas sangat tinggi
• Diagnosa dan therapy sangat penting dan perlu dengan segara penanganan
• Tindakan stabilisasi kardiopulmoner pada penderita CK. Berat harus dilakukan secepatnya.

A. Primary survey dan resusitasi
Di UGD ditemukan :
 30 % hypoksemia ( PO2 < 65 mmHg )
 13 % hypotensia ( tek. Darah sistolik < 95 mmHg )  Mempunyai mortalitas 2 kali lebih banyak dari pada tanpa hypotensi
 12 % Anemia ( Ht < 30 % )

1. Airway dan breathing
Sering terjadi gangguan henti nafas sementara, penyebab kematian karena terjadi apnoe yang berlangsung lama
Intubasi endotracheal tindakan penting pada penatalaksanaan penderita cedera kepala berat dengan memberikan oksigen 100 %
Tindakan hyeprveltilasi dilakukan secara hati-hati untuk mengoreksi sementara asidosis dan menurunkan TIK pada penderita dengan pupil telah dilatasi dan penurunan kesadaran
PCo2 harus dipertahankan antara 25 – 35 mm Hg
2. Sirkulasi
 Normalkan tekanan darah bila terjadi hypotensi
 Hypotensi petunjuk adanya kehilangan darah yang cukup berat pada kasus multiple truama, trauma medula spinalis, contusio jantung / tamponade jantung dan tension pneumothorax.
 Saat mencari penyebab hypotensi, lakukan resusitasi cairan untuk mengganti cairan yang hilang
 UGS / lavase peritoneal diagnostik untuk menentukan adanya akut abdomen

B. seconady survey
Penderita cedera kepala perlu konsultasi pada dokter ahli lain.

C. Pemeriksaan Neurologis
• Dilakukan segera setelah status cardiovascular penderita stabil, pemeriksaan terdiri dari :
 GCS
 Reflek cahaya pupil
 Gerakan bola mata
 Tes kalori dan Reflek kornea oleh ahli bedah syaraf
• Sangat penting melakukan pemeriksaan minineurilogis sebelum penderita dilakukan sedasi atau paralisis
• Tidak dianjurkan penggunaan obat paralisis yang jangka panjang
• Gunakan morfin dengan dosis kecil ( 4 – 6 mg ) IV
• Lakukan pemijitan pada kuku atau papila mame untuk memperoleh respon motorik, bila timbul respon motorik yang bervariasi, nilai repon motorik yang terbaik
• Catat respon terbaik / terburuk untuk mengetahui perkembangan penderita
• Catat respon motorik dari extremitas kanan dan kiri secara terpisah
• Catat nilai GCS dan reaksi pupil untuk mendeteksi kestabilan atau perburukan pasien.

D. Prosedur Diagnosis

VII. TERAPY MEDIKAMENTOSA UNTUK TRAUMA KEPALA
Tujuan utama perawatan intensif ini adalah mencegah terjadinya cedera sekunder terhadap otak yang telah mengaalami cedera
A. Cairan Intravena
Cairan intra vena diberikan secukupnya untuk resusitasi penderita agar tetap normovolemik
Perlu diperhatikan untuk tidak memberikan cairan berlebih
Penggunaan cairan yang mengandung glucosa dapat menyebabkan hyperglikemia yang berakibat buruk pada otak yangn cedera
Cairan yang dianjurkan untuk resusitasi adalah NaCl o,9 % atau Rl
Kadar Natrium harus dipertahankan dalam batas normal, keadaan hyponatremia menimbulkan odema otak dan harus dicegah dan diobati secara agresig
B. Hyperventilasi
Tindakan hyperventilasi harus dilakukan secara hati-hati, HV dapat menurunkan PCo2 sehingga menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah otak
HV yang lama dan cepat menyebabkan iskemia otak karena perfusi otak menurun
PCo2 80 mmHg
Pertahankan PaCO2 26 – 28 mmHg
Trnsfusi darah mungkin diperlukan sebagai “ oxygen carrying capacity”
B. Mencegah hypertensi intra cranial
Hypertensi ini dapat terjadi akibat :
• Masa lesi
• Pembengkakan otak akut
• Odema otak
Cara mengatasi HT. :
a. Lakukan hypocapnia
• Konsentrasi Co2 arteri mempengaruhi sirkulasi otak
• Co2 meningkat terjadi vasodilatasi sehingga menigkatkan volume intrakranial
• Co2 menurun terjadi tekanan intra kranial menurun
Tindakan hyperventilasi :
• Menurunkan intra cerebral acidosis
• Meningkatkan metabolisme otak
Anjurkan hyperventilasi dan pertahankan Pco2 antara 26 – 28 mmHg
Hati-hati pada saat melakukan tindakan intubasi
b. Kontrol cairan
• Cegah overhidrasi
• IV jangan hypoosmolar
• Jangan dilakukan loading
c. Diuretic :
• Manitol menurunkan volume otak dan menurunkan tekanan intra kranial
• Dosis 1 gr / kg BB IV cepat
• Furosemid 40 – 80 mg IV (Dewasa)
• Lakukan observasi dengan ketat
d. Steroid
Tidak direkomendasikan pada cedera kepala akut

Manifestasi lain pada cedera kepala
A. KEJANG.
• Tidak selalu diikuti epilepsi kronik
• Tidak perlu penanganan khusus , kecuali jika berkepanjangan atau berulang
Therapy :
• Diazepham 10 mg IV
• Phenytoin 1 gr IV kemudian 50 mg IM
• Jika kejang menetap :
• Phenobarbita
• Anestesi
B. Gelisah
• Gelisah sering dijumpai pada cedera otak atau cerebral hypoxia
• Dapat oleh sebab lain
• Rasa sakit
• Buli-buli penuh
• Bandage / cast terlaku ketat
 Atasi penyebabnya
Terjadi severe agitasi : Chloprometazine 10 – 25 mg IV
C. Hypertermia
• Meningkatkan resiko pada :
• metabilosme otak meningkat
• Level Co2 meningkat
• Atasi dengan :
• Hypothermia Blanket
• Chlorpromazine

KRITERIA UNTUK OBSERVASI DAN PERAWATAN :
1. Post trauma amnesia
2. Kesadaran yang menurun
3. Riwayat kehilangan kesadaran
4. Nyeri kepala sedang atau berat
5. Foto tampak fractur linier atau kompresi, benda asing di otak, air fluid levele
6. Ada tanda fractur basisi
7. Cedera berat ditempat lain
8. Tidak ada yang menemani di rumah
9. Ada tanda fractur basisi
10. Cedera berat ditempat lain
11. Tidak ada yang menemani di rumaAda tanda fractur basisi
12. Cedera berat ditempat lain
13. Tidak ada yang menemani di rumah

Iklan

About NOF TONI WASKITO

WORKING AS HSE OFFICER DI PT WIKA GEDUNG. KULIAH DI MAGISTER PROMKES JURUSAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s